Senin, 19 Desember 2011 12:52

Menurut Rudi Mulyono, selaku Direktur Empowering Yatim Mandiri, bahwa proses Super Gizi Qurban ini dimulai sejak sebelum hari raya Idul Qurban, Ahad (6/11). Yakni diawali tahap pertama, pengadaan hewan qurban diperoleh dari para peternak kambing dan sapi binaan Yatim Mandiri. “Dalam tahap ini, kondisi kesehatan dan berat hewan qurban diseleksi secara ketat, agar sesuai syar’i,” kata Rudi Mulyono.
Kemudian dilanjutkan pada tahap pemotongan hewan qurban yang dilaksanakan pada Ahad 6 November hingga Rabo 9 November 2011. “Untuk pemotongan hewan qurban ini, Yatim Mandiri bekerjasama dengan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Pasuruan. Karena sudah 3 tahun terakhir ini, pemotongan hewan qurban ditempatkan di RPH Pasuruan,” jelas Rudi Mulyono.
“Tahap pemotongan ini juga mendapat perhatian yang serius, karena harus sesuai dengan tata cara penyembelihan hewan qurban. Setelah disembelih, dilanjutkan dengan pemisahan daging dengan tulangnya juga diperhatikan agar hewan qurban benar-benar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sesuai amanah dari para donatur,” lanjutnya.
Proses selanjutnya, yakni pembekuan daging agar tetap segar dan hygenis. Dalam tahap ini, Yatim Mandiri menjalin kerjasama dengan PT Buana Artomoro Pasuruan untuk pembekuan daging qurban sebelum diolah menjadi sosis. “Tujuannya agar daging tetap dalam kondisi segar dan terjaga kebersihannya,” ujarnya.
Setelah itu, proses Super Gizi Qurban sampai pada tahap pengolahan dan pengemasan dalam kaleng. Untuk tahap ini, menurut Rudi Mulyono, Yatim Mandiri menggandeng PT Surya Jaya Abadi Perkasa, Probolinggo. “Jadi, daging qurban yang tersimpan di PT Buana Artomoro Pasuruan, secara bertahap dikirim ke PT Surya Jaya Abadi Perkasa di Probolinggo untuk diolah menjadi sosis,” jelas Rudi Mulyono.
Lalu dilanjutkan dengan tahap pengalengan. Yakni daging yang telah menjadi sosis, kemudian dikemas dalam kaleng. Tujuannya, agar sosis bisa tetap higienis, tahan lama dan lebih praktis dalam proses konsumsi dan pendistribusiannya. “Jika kemasan kaleng belum terbuka, sosis tersebut bisa tahan hingga 2 tahun lamanya,” ungkap Rudi Mulyono.
Dan yang terakhir, yakni tahap pendistribusian. Sosis yang dikemas dalam kaleng kemudian didistribusikan ke anak-anak yatim, keluarga yatim dhuafa, serta daerah-daerah yang terkena bencana alam dan wilayah yang terkena rawan pangan serta gizi buruk, sekaligus menjangkau daerah pelosok dan terpencil.(***)